BFC, PANGKAL PINANGv — Persoalan sampah di Kota Pangkalpinang kini telah melampaui batas kewajaran.
Tumpukan sampah pasar dan rumah tangga yang terus menggunung di Tempat
Pembuangan Akhir (TPA) Parit Enam bukan hanya mencerminkan buruknya tata kelola lingkungan, tetapi juga menjadi sumber penderitaan harian bagi warga sekitar.
“Setiap pagi kami bukan menghirup udara segar, tapi bau sampah. Rasanya seperti hidup di dalam tong sampah raksasa,” ujar Tati, seorang warga sekitar Parit Enam, Sabtu (3/1/2026).
Gunungan ribuan kubik sampah yang telah bertahun-tahun terbenam di TPA Parit Enam terus menguarkan bau busuk menyengat.
Aroma tak sedap itu bahkan dilaporkan menyebar hingga radius sekitar tiga kilometer.
Warga menyebut kondisi paling parah terjadi saat cuaca panas lalu disusul hujan.
“Kalau habis panas lalu hujan, baunya langsung turun ke rumah-rumah. Bukan cuma di luar, di dalam rumah pun tetap tercium walau pintu dan jendela sudah ditutup,” keluh Bujui, warga lainnya.
Bau busuk itu bukan sekadar mengganggu kenyamanan, tetapi juga memicu kekhawatiran akan dampak kesehatan.
Beberapa warga mengaku anak-anak sering mengeluh mual dan pusing, terutama pada malam hari.
“Anak-anak susah makan kalau baunya sedang kuat. Kami khawatir ini berbahaya dalam jangka panjang,” kata Susilawati,
seorang ibu rumah tangga di sekitar TPA.
Masalah sampah juga dirasakan warga di permukiman lain di Kota Pangkalpinang.
Jadwal pengangkutan sampah rumah tangga dinilai semakin tidak menentu. Jika sebelumnya petugas mengambil sampah paling lambat dua hari sekali, kini banyak warga mengaku harus menunggu hingga berhari-hari.
“Kadang seminggu baru diambil. Sampah sudah penuh, baunya ke mana-mana. Tapi kalau soal iuran, mereka selalu ingat,” ujar Sandi, warga Perumnas Bukit Merapin, dengan nada kesal.
Keluhan serupa datang dari kawasan padat penduduk. Tumpukan sampah di depan rumah kerap menjadi sasaran lalat dan anjing liar, menambah persoalan kebersihan dan kesehatan lingkungan.
Di kawasan pusat aktivitas warga seperti pasar tradisional dan seputaran Alun-Alun Taman Merdeka, persoalan sampah justru semakin kontras.
Sampah dari aktivitas perdagangan dan UMKM kuliner sering menumpuk dan lambat diangkut.
Sisa air makanan yang berceceran di jalan menimbulkan aroma busuk yang menusuk hidung.
“Kalau pagi habis jualan malam, lantai masih kotor dan bau. Padahal ini tempat orang olahraga dan bawa anak-anak,” ungkap Rio, yang mengaku rutin joging di di sekitar Alun-Alun.
Warga menilai kondisi tersebut mencederai fungsi ruang publik. Alun-Alun yang seharusnya menjadi tempat berkumpul keluarga dan sarana kebahagiaan justru berubah menjadi kawasan yang dihindari karena bau tak sedap.
“Orang mau sehat, mau senang, tapi kalau baunya seperti ini, siapa yang betah lama-lama?” Timpal Iqbal, seorang pengunjung Alun-Alun lainnya.
Berbagai keluhan itu kini bermuara pada satu tuntutan, Pemkot Pangkalpinang harus segera bertindak.
Persoalan sampah tidak bisa lagi ditangani secara tambal sulam. Pembenahan total pengelolaan TPA Parit Enam menjadi keharusan, mulai dari pengurangan volume sampah, pengolahan yang lebih modern, hingga penanganan bau yang serius.
Selain itu, sistem pengangkutan sampah rumah tangga perlu ditata ulang secara transparan dan konsisten.
Warga berharap ada kepastian layanan yang sebanding dengan iuran yang mereka bayarkan.
Pengelolaan sampah pasar dan kawasan UMKM pun perlu pengawasan khusus agar kawasan publik tidak berubah menjadi sumber pencemaran.
Pemkot Pangkalpinang juga didorong untuk memiliki program jangka panjang guna mewujudkan kota yang bersih, rapi, dan harum—melalui edukasi pemilahan sampah, penguatan bank sampah, hingga kolaborasi dengan masyarakat dan pelaku usaha.
“Jangan tunggu parah dulu baru bergerak. Kami hanya ingin hidup nyaman di kota sendiri,” ujar Mimi, seorang warga dengan nada berharap.
Masyarakat berharap persoalan sampah ini tidak lagi menjadi warisan dari satu kepemimpinan ke kepemimpinan berikutnya.
Sebab jika urusan sampah saja tak mampu diselesaikan, publik pun berhak bertanya, masa soal sampah saja tidak bisa?. (red).






