BFC, BANGKA BELITUNG, — Rencana pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Nuklir (PLTN) oleh PT Thorcon Power Indonesia di Pulau Gelasa kini memasuki fase polemik serius. Di satu sisi, proyek ini dipromosikan sebagai solusi energi bersih masa depan. Namun di sisi lain, kekhawatiran masyarakat terus menguat, dipicu oleh potensi risiko ekologis, catatan kecelakaan nuklir dunia, hingga kasus kontaminasi zat radioaktif pada produk pangan Indonesia.
Masyarakat menilai, proyek PLTN bukan sekadar proyek energi, melainkan taruhan besar terhadap keselamatan lingkungan dan keberlanjutan hidup masyarakat Bangka Belitung.
Lokasi PLTN yang direncanakan berada di wilayah pesisir Pulau Gelasa dinilai strategis untuk kebutuhan pendinginan reaktor. Namun para nelayan dan aktivis lingkungan menyoroti potensi dampak pembuangan air panas ke laut yang berisiko mengganggu ekosistem, mulai dari plankton hingga terumbu karang dan populasi ikan.
“Kalau laut rusak, kami hidup dari apa? Semua bergantung pada laut,” ujar nelayan Bangka Tengah saat diwawancara media ini.
Di daratan, persoalan limbah radioaktif menjadi kekhawatiran lain. Limbah nuklir memiliki masa bahaya sangat panjang, bahkan hingga ribuan tahun. Warga menilai belum ada jaminan absolut terkait penyimpanan limbah yang sepenuhnya aman.
“Kami takut daerah kami jadi tempat buangan limbah. Anak-cucu kami yang akan menanggung,” kata salah satu warga Desa Beriga.
Sementara dari sisi udara, risiko kebocoran radiasi, meskipun disebut sangat kecil oleh pihak pengembang tetap menjadi momok. Sejarah dunia mencatat insiden seperti Chernobyl (1986), Fukushima (2011), hingga Three Mile Island (1979) sebagai pengingat bahwa kecelakaan nuklir, walau jarang, memiliki dampak luas lintas generasi.
“Kalau negara maju seperti Jepang saja bisa gagal, bagaimana jaminannya di sini?” ujar seorang tokoh masyarakat Bangka Tengah.
Belajar dari Tragedi Nuklir Dunia Kecelakaan di Chernobyl menjadi salah satu bencana nuklir paling parah dalam sejarah, memaksa evakuasi besar-besaran dan meninggalkan zona eksklusi yang masih tidak layak huni hingga kini. Fukushima, yang dipicu gempa dan tsunami, menunjukkan bahwa faktor alam dapat melampaui perencanaan teknologi.
Insiden lain seperti Three Mile Island di Amerika Serikat dan kecelakaan Tokaimura di Jepang memperlihatkan bahwa kombinasi faktor teknis dan human error tetap menjadi risiko yang tidak dapat diabaikan.
Meski teknologi nuklir generasi baru diklaim lebih aman dengan sistem pendingin pasif dan desain modular, sebagian masyarakat menilai tidak ada teknologi yang sepenuhnya bebas risiko.
Kekhawatiran publik semakin meningkat setelah kasus ekspor Indonesia yang terpapar radioaktif Cesium-137 (Cs-137) mencuat. Setelah udang, satu kontainer cengkih bahkan dikembalikan oleh Amerika Serikat karena terdeteksi paparan zat radioaktif oleh FDA.
Pemerintah melalui Satgas Cs-137 mengonfirmasi kontainer tersebut akan diperiksa ulang setibanya di Indonesia. Kasus ini memicu pertanyaan besar di kalangan masyarakat: bagaimana zat radioaktif dapat mencemari produk pangan bahkan tanpa adanya PLTN aktif di Indonesia.
“Jika udang dan cengkih saja bisa tercemar, bagaimana nasib kami jika PLTN benar-benar berdiri?” ujar seorang warga pesisir Bangka Tengah.
Bangka Belitung dikenal sebagai daerah dengan kekuatan ekonomi berbasis hasil laut dan komoditas rempah. Ancaman kontaminasi radioaktif dinilai berpotensi menghantam sektor ekonomi sekaligus reputasi ekspor daerah.
Sejumlah aktivis lingkungan, termasuk WALHI Bangka Belitung, menilai proyek ini sebagai “proyek perdana” di Indonesia yang memiliki tingkat ketidakpastian tinggi karena minimnya rekam jejak operasional PLTN komersial oleh pihak pengembang.
Direktur Eksekutif WALHI Babel, Ahmad Subhan Hafiz, mendesak agar rencana pembangunan dihentikan hingga ada kajian keselamatan publik yang transparan dan independen.
“Hentikan ambisi proyek energi baru tersebut di Bangka Belitung. Sejak awal tidak transparan dan tidak menghormati ruang hidup rakyat,” tegasnya.
Selain itu, sebagian masyarakat mengaku minim mendapatkan sosialisasi langsung. Banyak warga mengetahui proyek ini justru dari media, bukan dari dialog publik yang intensif.
“Kami yang akan paling dekat dengan reaktor, tapi penjelasan teknologinya hampir tidak pernah kami dapat,” ujar seorang mahasiswa di Bangka.
Pihak Pengembang Tekankan Energi Bersih
Di sisi lain, PT Thorcon Power Indonesia menegaskan proyek PLTN bertujuan mendukung transisi energi bersih dan ketahanan listrik nasional. Legal Associate Thorcon, Andri Yanto, menyebut perusahaan telah memperoleh persetujuan Program Evaluasi Tapak dan Sistem Manajemen Evaluasi Tapak (PET-SMET) dari BAPETEN pada 30 Juli 2025 serta berkomitmen menjalankan edukasi publik secara berkelanjutan.
Namun polemik tetap menguat. Bagi sebagian masyarakat Bangka Belitung, isu ini bukan hanya soal listrik rendah karbon, tetapi tentang keamanan lingkungan, masa depan ekonomi lokal, dan risiko yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Di tengah janji energi bersih dan bayang-bayang tragedi nuklir dunia, Pulau Gelasa kini berada di persimpangan: antara harapan teknologi masa depan dan kekhawatiran akan risiko yang tak mudah dipulihkan. (red).








