BFC, PANGKALPINANG – -Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Kepulauan Bangka Belitung menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) terkait Nilai Imbal Usaha Jasa Pertambangan (NIUJP) di Ruang Badan Musyawarah (Bamus).
Rapat ini menyoroti ketidaksesuaian harga timah di tingkat masyarakat penambang dengan kenaikan harga timah dunia.
Rapat dipimpin langsung oleh Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya, didampingi Wakil Ketua Edy Iskandar. Turut hadir perwakilan manajemen PT Timah Tbk serta perwakilan masyarakat penambang dari Kabupaten Bangka Barat,dan Bangka Selatan.
Dalam forum tersebut, perwakilan masyarakat menagih janji Direktur Utama PT Timah terkait komitmen penyesuaian harga pasca-aksi pada 8 November 2025 lalu. Masyarakat menilai ada ketimpangan informasi antara kebijakan pusat dengan fakta di lapangan.

Ketua DPRD Babel, Didit Srigusjaya, meminta PT Timah untuk lebih menghargai kontribusi masyarakat penambang yang telah menjadi mitra selama ini.
“Tolonglah teman-teman PT Timah juga menghargai masyarakat. Mereka sudah memberikan hasil tambangnya, tolong hargai dengan harga yang layak. Jika alasannya ada mitra yang nakal, ya berikan sanksi tegas kepada mitranya. Itu simpel,” ujar Didit.
Ia juga menambahkan bahwa masyarakat saat ini sedang dalam kondisi terjepit secara ekonomi, terlebih menjelang hari raya. Ia berharap PT Timah segera merealisasikan komitmen kenaikan harga sebesar Rp100.000 yang pernah dijanjikan sebelumnya.
Masalah Pembayaran dan Tata Kelola
Selain masalah harga, RDP juga mengungkap keluhan terkait birokrasi pembayaran dan perbedaan standar kualitas (SN) timah. Perwakilan masyarakat menyatakan bahwa janji pembayaran dalam waktu empat hari seringkali meleset hingga lebih dari satu bulan.
Saat ini, DPRD masih menunggu undangan resmi dari manajemen PT Timah untuk membahas persoalan tersebut secara langsung. Harapannya, ada solusi konkret yang segera diambil agar harga timah di tingkat masyarakat bisa menyesuaikan dengan kondisi pasar.
“Kami menunggu undangan dari PT Timah. Harapan kami sederhana, buka hati nurani dan sesuaikan harga timah di tingkat bawah. Itu yang ditunggu masyarakat,” pungkas Didit.(red).







