BFC, PANGKALPINANG — Sidang lanjutan perkara pembunuhan wartawan Bangka Belitung, almarhum Aditya Warman, di Ruang Garuda Pengadilan Negeri Pangkalpinang, Selasa (24/2/2026) siang, berubah tegang ketika terdakwa Martin berulang kali memberikan jawaban yang dinilai berbelit-belit dan inkonsisten.
Majelis hakim yang memimpin persidangan tampak beberapa kali mengingatkan Martin agar menjawab lugas.
Nada kesal juga terlihat dari Jaksa Penuntut Umum (JPU) Kejaksaan Negeri Pangkalpinang yang harus berulang kali mencecar pertanyaan yang sama karena jawaban terdakwa berubah-ubah.
Salah satu momen krusial terjadi ketika Martin ditanya soal intensitas kedatangannya ke kebun korban.
Awalnya, Martin menjawab tidak pernah.
Beberapa saat kemudian, ia merevisi hanya satu kali, itupun karena diminta terdakwa Hasan membeli beras.
Namun saat dicecar JPU, jawabannya kembali berubah, ia mengaku sering main ke kebun korban.
Perubahan jawaban dalam satu pokok pertanyaan yang sama ini memantik teguran dari majelis hakim. Hakim meminta Martin fokus dan tidak berputar-putar.
Secara analitis, inkonsistensi ini menjadi penting. Dalam perkara pidana pembunuhan berencana, konsistensi keterangan terdakwa kerap menjadi salah satu indikator
kredibilitas. Ketika jawaban berubah dalam rentang waktu singkat, majelis biasanya akan menguji lebih dalam apakah itu karena gugup, lupa, atau upaya menyembunyikan fakta.
“Dibisikkan” dari Bangku Belakang
Sorotan lain yang tak luput dari perhatian ruang sidang adalah posisi ayuk (kakak perempuan) Martin yang duduk tepat di belakang kursi pesakitan. Setiap kali Martin menjawab pertanyaan—baik dari hakim, jaksa, maupun penasihat hukum— Martin sering kali diam sejenak menunggu suara pelan Ayuknya sebelum melanjutkan jawabannya.
Bisikan itu terdengar samar namun cukup untuk membuat sebagian pengunjung sidang saling berpandangan. Dalam beberapa momen, Martin seperti menunggu “arahan” sebelum menjawab.
Secara etik persidangan, terdakwa memang berhak didampingi penasihat hukum.
Namun komunikasi non-verbal atau bisikan dari pihak keluarga saat proses pemeriksaan bisa menimbulkan tafsir publik tentang independensi jawaban terdakwa.
Kontras dengan Keterangan Hasan
Sementara itu, terdakwa Hasan alias Abas justru memberikan keterangan yang relatif lebih runtut ketika menjawab pertanyaan jaksa.
Hasan menyebut korban dipukul dua kali menggunakan balok kayu. Ia menggambarkan posisi, dirinya di depan korban, sementara Martin di belakang. Ia juga menyebut niat memukul sudah muncul tiga hari sebelum kejadian, pada awal Agustus.
“Dua kali dipukul, pakai balok kayu, kena kepala bagian belakang,” ujar Hasan saat menjawab pertanyaan jaksa.
Namun ketika ditanya lebih jauh apakah Martin langsung memukul korban, Hasan sempat menjawab, “Ya, langsung,” tetapi di bagian lain ia juga mengatakan “tidak tahu,” memunculkan irisan kontradiksi yang memperkeruh konstruksi peristiwa.
Hasan juga mengungkap adanya percakapan sebelumnya tentang rencana merampok korban. Ia menyebut ajakan itu sudah muncul bahkan sebulan sebelum kejadian.
Adegan 3 Agustus dan Mobil Korban
Jaksa juga menyoroti tanggal 3 Agustus 2025, beberapa hari sebelum kejadian 7 Agustus. Dalam bagian ini, keterangan Martin kembali tidak tegas.
Ia menyebut berada di rumah, lalu mengaku berkomunikasi dengan Hasan, kemudian mengelak saat ditanya soal adegan rekonstruksi yang menunjukkan dirinya berada dalam mobil korban.
“Demi Allah,” ucap Martin berulang kali saat dicecar jaksa mengenai keberadaannya di mobil milik korban.
Fakta lain yang diuji adalah soal pakaian Martin yang disebut memiliki noda. Saat ditanya apakah noda itu sudah ada sebelum pemukulan, saksi menyebut tidak ada. Martin tidak memberi penjelasan yang konsisten mengenai asal noda tersebut.
Main Game Slot dan Motif Ekonomi?
Dalam sesi pertanyaan penasihat hukum, terungkap pula kebiasaan bermain game slot dan penggunaan motor Jupiter. Ada percakapan soal ide “merampok dan membunuh” yang disebut pernah diutarakan.
Namun ketika ditanya langsung, Martin
cenderung menjawab singkat, “Tidak tahu,” atau “Tidak,” tanpa elaborasi.
Dalam konstruksi dakwaan, motif ekonomi dan rencana yang didahului pembicaraan sebelumnya menjadi elemen penting untuk membuktikan ada tidaknya perencanaan.
Hakim Mulai Kehilangan Kesabaran
Beberapa kali Ketua Majelis Hakim harus memotong jawaban Martin yang dinilai tidak langsung pada pokok pertanyaan. Nada hakim meninggi ketika jawaban terdakwa berputar-putar dan tidak sinkron dengan berita acara pemeriksaan maupun keterangan terdakwa lain.
Situasi ini memperlihatkan dua hal,
adanya tekanan psikologis terdakwa dalam persidangan terbuka.
Atau kemungkinan strategi defensif dengan memperlambat alur klarifikasi fakta.
Bagi publik dan komunitas pers Bangka Belitung, sidang ini bukan sekadar mengurai kronologi pembunuhan seorang wartawan, tetapi juga menguji sejauh mana transparansi dan keberanian pengadilan membedah kontradiksi.
Sidang akan kembali dilanjutkan dengan agenda berikutnya, sementara majelis masih harus menilai, apakah jawaban berbelit Martin sekadar kegugupan, atau justru simpul penting yang mengarah pada konstruksi peran yang lebih besar dalam kematian Adity warman. (red).








