Lebih dari Sekadar Bukber, HNSI Bangka Belitung Pererat Ikatan dengan Media

oleh

BFC, SUNGAI LIAT, — Langit senja di Sungailiat perlahan meredup, menyisakan semburat jingga yang memantul di wajah-wajah yang berkumpul di RM Pangeran, Selasa (17/3/2026).

Di tengah suasana hangat bulan suci Ramadan 1447 Hijriah, tawa dan obrolan ringan mengalir di antara para nelayan dan insan pers yang duduk bersisian, menunggu azan magrib berkumandang.

Sore itu bukan sekadar buka puasa bersama. Pengurus Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) DPD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung bersama DPC Kabupaten Bangka sengaja merajut suasana yang lebih dari formalitas—sebuah ruang silaturahmi yang hangat, tanpa sekat antara organisasi nelayan dan media.

Ketua DPD HNSI Bangka Belitung, Ridwan, berdiri di hadapan para tamu dengan nada suara yang bersahaja. Ia tak hanya menyampaikan sambutan, tetapi juga rasa terima kasih yang tulus.

“Selama ini, peran rekan-rekan media sangat besar bagi HNSI. Apa yang kami lakukan di lapangan tidak akan sampai ke masyarakat tanpa bantuan publikasi dari insan pers,” ujarnya.

Di balik kalimat sederhana itu, tersimpan pengakuan penting: bahwa kerja-kerja nelayan, advokasi, hingga kegiatan sosial HNSI, tak lepas dari peran media sebagai jembatan informasi. Ridwan menegaskan, keberadaan HNSI tidak akan berarti banyak tanpa dukungan tersebut.

Suasana pun mencair. Obrolan bergeser dari sekadar formalitas menjadi percakapan akrab—tentang laut, tentang tantangan nelayan, hingga cerita-cerita ringan di lapangan. Di meja-meja panjang, pengurus HNSI dan wartawan duduk tanpa jarak, saling bertukar cerita.

Perwakilan pengurus HNSI, Oktavianus Poray Tira, mengungkapkan bahwa kegiatan ini sejatinya telah lama direncanakan.

Momentum Ramadan dipilih sebagai waktu yang tepat untuk mempererat hubungan.
“Ini bukan hanya buka puasa bersama, tapi juga ajang memperkuat silaturahmi antara pengurus HNSI, baik tingkat provinsi maupun kabupaten, serta rekan-rekan media,” katanya.

Bagi HNSI, momen seperti ini menjadi pengingat bahwa perjuangan nelayan tidak berdiri sendiri. Ada banyak pihak yang terlibat—termasuk media—yang ikut menyuarakan realitas di pesisir.

Ketika azan magrib akhirnya berkumandang, percakapan terhenti sejenak. Doa dipanjatkan, kurma disantap, dan air dingin mengalir menyegarkan tenggorokan.

Namun lebih dari itu, sore itu meninggalkan sesuatu yang lebih dalam: rasa kebersamaan.

Di tengah tantangan dunia nelayan yang kerap tak mudah, pertemuan sederhana di RM Pangeran itu menjadi bukti bahwa kolaborasi dan komunikasi tetap menjadi kunci. Bahwa di balik setiap berita yang terbit, ada hubungan yang dibangun—hangat, manusiawi, dan penuh makna. (red).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.