BFC, BANGKA — Pelarian delapan tahanan dari sel Mapolres Bangka pada Rabu (8/4/2026) dini hari tak sekadar menjadi peristiwa kriminal biasa. Di balik jeruji yang digergaji dan dua tahanan yang sudah diamankan, terselip sejumlah kejanggalan yang kini mengarah pada dugaan lemahnya sistem pengamanan hingga potensi kelalaian internal.
Kapolres Bangka, Deddy Dwitiya Putra, dalam konferensi pers mengungkapkan bahwa para tahanan kabur dengan cara merusak teralis besi menggunakan gergaji. Satu batang teralis ditemukan dalam kondisi terpotong—sebuah fakta yang langsung memunculkan pertanyaan besar: bagaimana alat tersebut bisa masuk ke dalam sel yang seharusnya steril?
Jejak Gergaji: Celah di Balik Pembesukan
Dugaan sementara menyebutkan bahwa gergaji masuk melalui barang bawaan saat pembesukan keluarga. Namun, skenario ini membuka ruang investigasi lebih dalam. Prosedur pemeriksaan barang titipan seharusnya dilakukan berlapis, mulai dari pemeriksaan manual hingga pengawasan petugas jaga.
Jika benar alat itu lolos dari pemeriksaan, maka ada indikasi kuat adanya kelonggaran prosedur—atau bahkan kemungkinan pembiaran.
Sumber internal yang enggan disebutkan namanya menyebut, “Tidak mungkin alat seperti gergaji bisa masuk tanpa ada celah. Entah itu kelalaian atau ada yang ‘main mata’, ini harus dibongkar.”
Dugaan Kelalaian Petugas Jaga
Selain asal-usul gergaji, fokus penyelidikan juga mengarah pada petugas piket malam. Fakta bahwa delapan tahanan bisa merusak teralis dan kabur secara bersamaan menimbulkan dugaan kuat adanya kelengahan serius.
Pemeriksaan kini dilakukan oleh Divisi Profesi dan Pengamanan Polri untuk menelusuri apakah ada pelanggaran prosedur atau bahkan keterlibatan oknum.
Dalam sistem pengamanan tahanan, patroli rutin dan pengecekan berkala adalah standar wajib. Jika ini tidak berjalan, maka pelarian tersebut bukan hanya kegagalan teknis, melainkan kegagalan sistemik.
Pelarian Terencana?
Metode kaburnya para tahanan menunjukkan indikasi perencanaan matang. Menggergaji teralis membutuhkan waktu, alat, dan koordinasi. Artinya, aksi ini kemungkinan tidak dilakukan secara spontan.
Dua tahanan yang telah diamankan—satu menyerahkan diri dan satu ditangkap di Mentok saat hendak kabur melalui jalur pelabuhan—mengindikasikan bahwa para pelarian telah memetakan rute pelarian sejak awal.
Wilayah Mentok sendiri dikenal sebagai salah satu akses keluar-masuk strategis melalui jalur laut, yang kerap dimanfaatkan dalam upaya pelarian.
Enam Tahanan Masih Buron
Hingga kini, enam tahanan lainnya masih dalam pengejaran aparat gabungan dari Polres Bangka dan Polda Kepulauan Bangka Belitung. Identitas mereka telah disebarluaskan, dan masyarakat diminta turut berperan aktif memberikan informasi.
Namun di sisi lain, publik juga mulai mempertanyakan: bagaimana mungkin fasilitas tahanan di tingkat Polres bisa ditembus dengan cara yang tergolong “klasik”?
Evaluasi atau Sekadar Formalitas?
Pasca kejadian, pihak kepolisian menyatakan akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengamanan sel, termasuk memperkuat teralis dan menambah personel jaga.
Namun, tanpa pengusutan tuntas terhadap dugaan kelalaian atau keterlibatan internal, evaluasi ini dikhawatirkan hanya menjadi langkah reaktif, bukan solusi mendasar.
Kasus ini kini menjadi ujian serius bagi kredibilitas pengamanan institusi kepolisian di daerah. Sebab, jika ruang tahanan saja bisa ditembus, maka pertanyaan lebih besar pun muncul: seberapa aman sistem yang ada saat ini?








