BFC, PANGKALPINANG — Di tengah meningkatnya tantangan dunia kerja dan tingginya kebutuhan tenaga pendidik di Bangka Belitung, Anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung dari Fraksi Gerindra, Hardi Efendi, mengajak generasi muda untuk tidak hanya berpikir mencari pekerjaan, tetapi mulai berani menciptakan peluang kerja sendiri.
Pesan itu disampaikan Hardi Efendi saat menggelar kegiatan reses di Warkop AB, Kelurahan Kejaksaan, Kecamatan Tamansari, Sabtu malam (16/5/2026).
Dalam suasana santai namun penuh diskusi, Hardi memanfaatkan forum reses untuk mendengar langsung keluhan masyarakat sekaligus memberi motivasi kepada generasi muda yang hadir.
Sebelum menyerap aspirasi warga, Hardi terlebih dahulu memperkenalkan perannya sebagai anggota DPRD Provinsi Bangka Belitung yang bertugas di Komisi IV, membidangi pendidikan, kesehatan, sosial, ketenagakerjaan, hingga perlindungan perempuan dan anak.
“Saya anggota DPRD Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Saya menempati Komisi IV, menaungi pendidikan, kesehatan, sosial, tenaga kerja, Komnas Perempuan dan Anak,” ujar Hardi di hadapan peserta reses.
Menurutnya, kegiatan reses bukan sekadar agenda formal wakil rakyat, tetapi ruang komunikasi langsung antara masyarakat dan anggota dewan agar berbagai persoalan di lapangan bisa benar-benar didengar dan diperjuangkan.
“Jadi reses itu agar masyarakat bisa menyampaikan keluh kesah dan aspirasinya kepada perwakilannya masing-masing,” jelasnya.
“Nantinya aspirasi itu akan dimasukkan di dalam pokok pikiran yang akan disampaikan kepada pemerintah, sehingga bisa ditangani,” imbuhnya.
Namun dalam reses tersebut, perhatian Hardi tidak hanya tertuju pada persoalan infrastruktur atau bantuan sosial.
Ia justru memberi sorotan besar terhadap masa depan generasi muda Bangka Belitung yang dinilai harus mulai dipersiapkan menghadapi tantangan dunia kerja yang semakin kompetitif.
Salah satu yang disorot ialah masih tingginya kebutuhan tenaga pengajar di Bangka Belitung.
Hardi menyebut daerah ini masih kekurangan ratusan guru dan tenaga pendidik yang terdaftar secara resmi.
Karena itu, ia mengajak generasi muda, khususnya Gen Z, untuk mulai melirik profesi tenaga pengajar sebagai peluang pengabdian sekaligus profesi masa depan.
“Adik-adik bisa mengikuti pelatihan sertifikasi khusus tenaga pengajar supaya bisa terdaftar di kementerian. Karena di Bangka Belitung ini tenaga pengajar itu masih kekurangan sekitar 800-an,” terangnya.
Selain sektor pendidikan, Hardi juga menyoroti pentingnya membangun mental kewirausahaan di kalangan anak muda. Ia menilai pola pikir generasi muda harus mulai berubah dari sekadar pencari kerja menjadi pencipta lapangan kerja.
Menurutnya, pemerintah telah menyediakan berbagai fasilitas pelatihan keterampilan melalui Balai Latihan Kerja yang bisa dimanfaatkan generasi muda untuk meningkatkan kemampuan dan daya saing.
“Pengusaha itu perlunya modal dan keahlian. Kawan-kawan dan adik-adik generasi muda bisa mengikuti pelatihan di Balai Latihan Kerja supaya bisa punya keahlian yang dibutuhkan oleh pengusaha,” tuturnya.
Ia menegaskan bahwa keberanian anak muda membangun usaha sendiri bukan hanya berdampak pada ekonomi pribadi, tetapi juga membantu pemerintah mengurangi angka pengangguran di daerah.
Kemudian generasi muda kita juga jangan melulu berpikir untuk mencari pekerjaan, tetapi kitalah yang harus menciptakan lapangan kerja. Kalau generasi muda sudah bisa menciptakan lapangan kerja, itu juga membantu pemerintah dalam menangani pengangguran,” katanya.
Di tengah tantangan ekonomi dan keterbatasan lapangan pekerjaan yang masih dirasakan sebagian masyarakat, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa pembangunan daerah tidak hanya bergantung pada pemerintah, tetapi juga pada keberanian generasi mudanya untuk tumbuh, berinovasi, dan mengambil peluang.
Bagi Hardi Efendi, masa depan Bangka Belitung tidak hanya ditentukan oleh pembangunan fisik semata, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang siap mengajar, berkarya, dan menciptakan perubahan dari lingkungan mereka sendiri.(red).






