BFC, PANGKALPINANG – Kepentingan segelintir orang yang mengatasnamakan masyarakat luas kerap dijadikan sebagai alat untuk memenuhi syahwat serakah. Di Bangka Belitung komoditas timah, tanah negara bahkan kinerja aparat penegak hukum pun dijadikan senjata untuk melemahkan, agar syahwat serakah segelintir orang yang mengatasnamakan masyarakat terpenuhi. Padahal, mustahil hal yang jelas-jelas ilegal mau di legalkan dan tanah milik negara harus dilepaskan untuk kepentingan syahwat serakah.
Rencana demo segelintir orang yang mengatasnamakan masyarakat di DPRD Babel, Kamis (10/9/2026) besok diduga ditunggangi sosok perempuan bernama Dessy yang diketahui hilir mudik di dunia pertimahan. Tuntutan gerakan demo segelintir orang itu pun tak masuk di akal, mulai dari membebaskan hutan lindung yang dikuasai “Haji” versi Lubuk. Legalkan pengiriman timah ilegal dari Pulau Belitung ke Pulau Bangka dan melemahkan kinerja aparat penegak hukum yakni Satgas besutan Presiden Prabowo. Padahal diketahui masyarakat luas bahwa kinerja Satgas (Satgas PKH dan Satlap Tricakti-red) terbilang baik dan menorehkan prestasi gemilang.
“Mereka kumpul ada Dessy dengan kelompok yang mau demo itu dan juga beberapa bos timah ilegal bahkan ada Haji versi Lubuk,” kata AN (inisial samaran-red) yang minta identitasnya untuk dirahasiakan ini.
“Dessy ini mau melawan negara, mau melemahkan kinerja Satgas, yang benar saja hutan lindung lubuk di lindungi negara, milik negara, dituntut kelompok demo di bebaskan alih-alih untuk kepastian masyarakat memanfaatkan kan kepentingan dan kita tahu kalau hutan lindung di Lubuk itu dikuasai Haji itu,” sesalnya.
Diungkapkannya bahwa nama Dessy cemar di kalangan penambang timah ilegal. Dessy dikaitkan dengan penjamin keamanan penambangan timah ilegal.
“Nama Dessy itu di mana-mana, di kasus tambang Hutan Lindung Lubuk itu dia yang menyuruh dan menjamin keamanan penambang. Dessy menjual nama besar tempat dia bekerja (smelter swasta-red).
Bos nya itu di bohong-bohongi. WhatsApp percakapan bos nya saja di bawa-bawa ke penambang ilegal. Bos nya tidak tahu itu,” ungkapnya seraya menambahkan kalau Dessy diduga mem-bekingi penambangan timah ilegal di Bandara Depati Amir Pangkalpinang dan Tujuh Batang Sanfur.
Menanggapi hal ini, Dessy yang diketahui bekerja di salah satu smelter swasta di Pulau Bangka mengaku kalau dirinya tidak memiliki kekuasaan apa pun untuk menyuruh orang lain menambang timah ilegal.
“Terimakasih klarifikasi nya…Alhamdulilah ya sampai dengan saat ini saya tidak pernah meminta siapapun untuk melakukan penambangan, kapasitas saya tidak ada disana, tidak punya kekuasaan apaun untuk menyuruh orang lain menambang,jika ada yang mengatas nama kan saya, tolong pertemukan saya dg nelayan tersebut.
Demikian ya..terima kasih. Ini baru 3 dr grup kalian yg menanyakan kesaya..apakah masih ada yang lain?silahkan di wa saja ya atau klo mau bertemu untuk klarifikasi tolong dibawa juga sumber yg menyatakan itu ya,” sangkal Dessy dikonfirmasi melalui pesan WhatsApp, Selasa (8/9/2026) malam.
Hingga berita ini ditayangkan pemilik smelter swasta tempat Dessy bekerja yang berdomisili di Jakarta dan pihak-pihak terkait lainnya dalam upaya konfirmasi (red)








