BFC, TOBOALI – Proyek rehabilitasi jaringan irigasi senilai Rp43,08 miliar di Desa Rias, Kecamatan Toboali, Kabupaten Bangka Selatan, mendadak jadi sorotan tajam warga dan para petani lokal. Bagaimana tidak, proyek irigasi yang dibiayai uang negara puluhan miliar rupiah itu ditemukan sudah retak-retak dan berlubang di sejumlah bagian, padahal belum selesai dikerjakan.
Dugaan pengerjaan yang asal-asalan makin menguat setelah dinding saluran yang retak dan berlubang hanya ditutupi menggunakan lapisan acian adukan semen tipis untuk menyamarkan kerusakan. Kondisi ini memicu kekecewaan mendalam bagi masyarakat petani Desa Rias yang selama ini menggantungkan nasib dan pasokan air sawah mereka pada proyek APBN Tahun Anggaran 2026 tersebut.

Berdasarkan data papan proyek di lapangan, pekerjaan ini menelan anggaran tepatnya Rp43.86.980.000 di bawah naungan Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung. Proyek ini dikerjakan oleh kontraktor pelaksana PT Graha Anugerah Lestari dengan pengawasan konsultan PT Geodinamik Konsultan KSO PT Jasa Perencana Nusantara, dengan masa kerja 270 hari sejak akhir Maret 2026.
Dari hasil pantauan langsung sejumlah wartawan di lokasi pada Minggu (25/10/2026) menunjukkan pemandangan yang memprihatinkan. Dinding semen yang seharusnya kokoh menahan debit air justru mulai merekah retak. Beberapa bagian bahkan diduga masih menggunakan susunan batu gunung lama yang ditimpa adukan semen cair. Rasa kecewa tak mampu disembunyikan oleh Surya, salah seorang petani setempat yang sehari-hari menggarap sawah di kawasan Daerah Irigasi (D.I.) Rias.
Surya menilai, anggaran puluhan miliar dari pemerintah pusat semestinya bisa menghasilkan bangunan irigasi yang kokoh dan tahan lama untuk menyelamatkan ratusan hektare sawah warga dari ancaman kekeringan.
“Proyek yang menghabiskan uang negara puluhan miliar ini tujuannya bantu petani saat kekeringan. Tapi kalau melihat hasilnya baru dibuat sudah retak begini, rasanya jauh panggang dari api,” ungkap Surya dengan nada kecewa.
Ia menduga campuran semen yang digunakan terlalu muda atau tipis, sehingga tidak mampu melekat kuat pada struktur bangunan.
“Jangan hanya ngejar selesai fisik saja. Kami minta BWS turun tangan periksa ketebalan semen, mutu batu, dan kekuatan strukturnya. Jangan sampai baru diresmikan nanti malah ambrol,” tegasnya.
Para petani mendesak Balai Wilayah Sungai (BWS) Bangka Belitung dan tim pengawas untuk tidak tutup mata dan segera melakukan uji teknis secara menyeluruh di lapangan.
Jika terbukti ada penyimpangan spesifikasi atau pengurangan kualitas material dalam kontrak kerja, pihak kontraktor harus dipaksa membongkar dan mengulang perbaikan sesuai standar mutu.
Hingga berita ini ditayangkan ,pihak BWS Bangka Belitung serta kontraktor PT Graha Anugerah Lestari dan pihak-pihak terkait lainnya dalam upaya konfirmasi. (red).








